Kamis, 29 Oktober 2015

Lat Pramuka Sesion 1 Ke Pramukaan point 2

SEJARAH PRAMUKA
Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Kata "Pramuka" merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya.
Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi; Pramuka Siaga (7-10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16-20 tahun) dan Pramuka Pandega (21-25 tahun). Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing.
Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur. Kepramukaan adalah sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat, dan bangsa Indones
Sejarah
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/25/Flag_of_Indonesische_Nationale_Padvinderij_Organisatie.jpg/200px-Flag_of_Indonesische_Nationale_Padvinderij_Organisatie.jpg
Lambang identitas dari INPO yang berupa bendera merah dan putih berukuran 84 cm X 120 cm.
Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung.[1] Sedangkan pada tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).[1] Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, bernama (Belanda) Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.[1] Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus 1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomol di Uni Soviet.[2]
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e2/Indonesische_Nationale_Padvinderij_Organisatie_photo.jpg/220px-Indonesische_Nationale_Padvinderij_Organisatie_photo.jpg
Organisasi Kepanduan Indonesia di seputaran tahun 1920-an.
Pada tanggal 26 Oktober 2010, Dewan Perwakilan Rakyat mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, maka Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan kepramukaan. [3]
Masa Hindia Belanda
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai "saham" besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.
Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.
Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.
Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hizbul Wathan" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.
Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu "Persaudaraan Antara Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.
Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).
PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.
Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernapas utama kebangsaan maupun bernapas agama. kepanduan yang bernapas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernapas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).
Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.
Masa Perang Dunia II
Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepanduan tetap menyala di dada para anggotanya. Karena Pramuka merupakan suatu organisasi yang menjunjung tinggi nilai persatuan. Oleh karena itulah bangsa Jepang tidak mengizinkan Pramuka di Indonesia.
Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepanduan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia.
Kongres yang dimaksud dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.
Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.
Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.
Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepanduan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.
Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia
Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepanduan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.
Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.
Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.
Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepanduan".
Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.

Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.

latihan Pramuka Sesion 1 Ke Pramukaan point 1

AWAL MULA LAHIRNYA KEPANDUAN
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/35/Burnham_sketch_by_baden-powell.jpg/225px-Burnham_sketch_by_baden-powell.jpg
Awal Mula Lahirnya Kepanduan, 1896
Tahun 1896, Baden-Powell ditugaskan ke daerah Matabeleland di Rhodesia Selatan (sekarang dikenal dengan nama Zimbabwe) sebagai Chief of Staff di bawah Jenderal Frederick Carrington selama Perang Matabele Kedua, dan disanalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang yang nanti menjadi sahabat karibnya, Frederick Russell Burnham, tentara kelahiran Amerika Serikat yang menjabat sebagai kepala pasukan pengintai Inggris. Keberadaannya di sana akan menjadi pengalaman yang sangat penting, bukan hanya karena Baden-Powell berkesempatan memimpin misi sulit di wilayah musuh, tetapi saat-saat itulah Ia banyak mendapat inspirasi untuk membuat sistem pendidikan kepanduan. Ia bergabung dengan tim pengintai (mata-mata) di Lembah Matobo. Burnham mulai mengajari woodcraft kepada Baden-Powell, keahlian yang juga memberikan inspirasi untuk menyusun program/ kurikulum dan kode kehormatan kepanduan. Woodcraft adalah keahlian yang banyak dikenal dan dikuasai di Amerika, tetapi tidak dikenal di Inggris. Keahlian itulah cikal bakal dari apa yang kiri sering disebut Ketrampilan Kepramukaan.
Keduanya menyadari bahwa kondisi alam dan peperangan di Afrika jauh berbeda dengan di Inggris. Maka mereka merencanakan program pelatihan bagi pasukan tentara Inggris agar mampu beradaptasi. Program pelatihan itu diberikan pada anak-anak muda, isinya penuh dengan materi-materi tentang eksplorasi, trekking, kemping dan meningkatkan kepercayaan diri.
Saat itu juga merupakan kali pertama bagi Baden Powell mengenakan topi khasnya (Burnham mirip topi koboi) sebagai pengenal dan hingga kini masih digunakan oleh anggota kepanduan di seluruh dunia. Selain itu, Baden-Powell juga menerima sangkakala (terompet) kudu, peralatan dalam Perang Ndebele. Terompet itu nantinya ditiup setiap pagi untuk membengunkn para peserta Perkemahan Kepanduan pertama di Kepulauan Brown sea.
Tiga tahun kemudian, di Afrika Selatan selama Perang Boer II. Baden-Powell ditempatkan di kota kecil bernama Mafeking dengan jumlah pasukan Boer yang jauh lebih banyak dari pada di tempat sebelumnya. The Mafeking Cadet Corps adalah sekelompok anak muda yang bertugas membawakan pesan untuk pasukan lain. Meskipun mereka tidak berpengalaman dalam menghadapi musuh, mereka berhasil melawan musuh mempertahankan kota (1899–1900), dan kejadian inilah yang juga menjadi salah satu faktor yang mengilhami Baden-Powell dalam membuat materi kepanduan. Setiap orang dalam pasukan itu menerima bedge penghargaan berbentuk jarum kompas yang dikombinasikan dengan ujung anak panah. Bedge ini bentuknya mirip dengan fleur de lis, logo yang hingga kini digunakan sebagai logo organisasi kepanduan di banyak negara di dunia.
Di Inggris Raya, orang-orang membaca berita prestasi Baden-Powell dalam memimpin Pasukan Mafeking sehingga di negara asalnya itu, ia menjadi “Pahlawan Nasional”. Hal ini memberikan keuntungan, karena buku kecil yang ditulisnya “Aids to Scouting” menjadi terjual laris.
Sekembalinya ke Inggris, Ia melihat bukunya telah populer dan banyak digunakan para guru untuk mendidik muridnya, dan juga para pemuda yang aktif dalam organisasi. Karena itulah, Ia diminta untuk menulis ulang bukunya tersebut agar mudah dipahami oleh anak muda, terutama untuk anggota Boys’ Brigade, sebuah orgaisasi kepemudaan yang besar dan bernuansa militer. Baden-Powell mulai berpikir kemungkinan hal ini bisa berkembang jauh lebih besar. Ia mulai mempelajari materi lain yang bsa menjadi bahan pelajaran dalam kepanduan.
Juli 1906, Ernest Thompson Seton mengirimi Baden-Powell salinan bukunya yang berjudul The Birchbark Roll of the Woodcraft Indians. Seton, adalah orang Kanada yang lahir di Inggris dan tinggal di Amerika Serikat. Ia bertemu dengan aden-Powell bulan Oktober 1906, dan mereka saling berbagi ide tentang program pelatihan bagi pemuda. Tahun 1907, Baden-Powell menulis draft buku berjudul Boy Patrols. Pada tahun yang sama, untuk menguji idenya, Ia mengumpulkan 21 pemuda dengan latar belakan bermacam-macam (yang diundang dari beberapa sekolah khusus laki-laki di London, yakni Poole, Parkstone, Hamworthy, Bournemouth, dan Winton Boys’ Brigade units) dan mengadakan perkemahan selama seminggu di Brownsea Island, Poole Harbour, Dorset, Inggris. Metode yang diterapkan dalam perkemahan itu adalah memberikan kesempatan pada para pemuda tersebut untuk mengatur kelompok mereka sendiri dengan membentuk kelompok kecil dan memilih salah satu anggota kelompok sebagai pemimpin.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/31/Scout_stone_Brownsea.jpg/150px-Scout_stone_Brownsea.jpg
Brownsea, 1908
Musim panas 1907, Baden-Powell melakukan promo dan bedah buku barunya, “Scouting for Boys”. Ia tidak sekedar menulis ulang buku “Aids to Scouting” yang lebih banyak materi kemiliterannya. DI buku yang baru itu, aspek kemiliterannya diperkecil dan digantikan dengan teknik-tekni non-militer (terutama survival) seperti pioneering dan penjelajahan. Ia juga memasukka perinsip edukasi yang inovatif, disebut Scout method (metode kepramukaan). Ia juga berkreasi dengan membuat game-game menarik sebagai sarana pendidikan mental.
Scouting for Boys awalnya diperkenalkan di Inggris pada Januari 1908 dalam 6 jilid. Pada tahun yang sama, buku tersebut dicetak dalam bentuk satu buku utuh. Sampai saat ini, buku tersebut di peringkat ke empat dalam daftar buku bestseller dunia sepanjang masa.

Mulanya, Baden-Powell diminta menjadi “pembina” organisasi The Boys’ Brigade, yang didirikan William A. Smith. Kemudian, karena popularitasnya semakin meningkat serta tulisannya tentang petualangan-petualangan di alam terbuka, banyak pemuda yang mulai membentuk kelompok kepanduan dan Baden-Powell “kebanjiran order” untuk menjadi pembina kelompok-kelompok itu. Mulai saat itulah Gerakan Kepanduan (Scout Movement) mulai berkembang dengan pesat. Sekalipun Gerakan Kepanduan didirikan Baden-Powell, tetapi ia banyak terinspirasi Frederick Russell Burnham, orang Amerika yg membantu Inggris di Afrika Selatan. Burnham banyak belajar teknik hidup di alam bebas dari ayahnya yang menjadi pastor di tempat penampungan (reservasi) orang Indian. Burnham yang sukses menghadapi beberapa perang pemberontakan Indian, lalu pergi ke Afrika Selatan & berkenalan dengan Baden-Powell di Perang Boer. Dari Burnhamlah Baden-Powell menyusun berbagai ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan seorang Boy Scout (Pandu). Terinspirasi orang Indian. Selanjutnya di Gerakan Kepanduan, Burnham diangkat sebagai “Kepala Suku” pertama dari gerakan yg didirikan Baden-Powell.

Kamis, 27 November 2014

Latihan Pramuka sesi 2 (materi alam bebas) point 5




Pengantar
Menaksir tinggi sebuah obyek atau benda penting untuk diketahui sebagai alat bantu dalam penjelajahan. Menaksir tinggi tidak semata-mata melatih kemampuan menghitung dan memperkirakan, namun hasil penaksiran tinggi obyek  bisa digunakan untuk membantu mengenali lingkungan sekaligus memperkaya dan mempermudah dalam melakukan kegiatan di alam bebas.

Menaksir Tinggi Pohon
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbtrx4lJdLubGmKg-iHuF7IChOdAr2S8UBxI4fz7Nji4Wo9RMfAQFlPnjf38hGp0Lbcrs14KDJ1ACP7FOA9L6jNwZcBMguQoHH0pHWID98U_qOtEY4JniMzfopmId2lCgBETdtWRPIuVIP/s320/Tinggi+Pohon.jpg

Tetapkan 11 unit (bisa meter, bisa langkah, bisa tongkat atau bisa jenis lainnya ) dari A ke satu titik sisi yang datar.
Titik  yang datar  tersebut kemudian dinyatakan D.
Suruhlah salah satu anggota regu memegang/menegakkan tongkat Pramuka pada titik D.
Lanjutkan 1 unit lagi ke titik C.
Dari titik C, seorang teman mengintai ke puncak pohon (B) melalui tongkat yang ditegakkan pada D.
Tandai bagian tongkat yang dilalui garis CB. Bagian yang dilalui  tersebut disebut E.
Dengan demikian tinggi pohon tersebut: AB = 12 DE.
Menaksir tinggi tiang listrik.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5F9huP9wyr47e_OIzHsqNHNs0KKQAleR2_CkofhpRmE7LoRsPFdXEvAplE7slW15aPrW8bzCx7qoDBOwrhV_ryCTK_YuTSB5suxRDj8l-KXJv5DFSWottNU2YdtUdpaQiBq0EJDDjm10j/s320/Tinggi+Listrik.jpg
Tinggi tongkat AB = 160cm.
Panjang bayangan tongkat  = 20cm.
Jadi perbandingan tongkat dan bayangannya  = 20 : 160 = 1 : 8.
Panjang bayangan tiang listrik = 1,20 m : 120 cm
Jadi tinggi  tiang listrik = 120 x 8 =  960 cm = 9,6 m

Menaksir Tinggi Bukit.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_letSSpV_IC2Pl7puNe158dRuMm-biqxAgsygenyCgEvewpQwvu5UVwMPuv_QfnhuTpn8SQ96SKa-wQovzBC3fSLyexYAnVqzknGAbAy1xJO6n-Uv0TMefFQKYrgm9DryL40BXr6B-xlS/s320/Tinggi+Bukit.png

Tentukan suatu benda (pohon, tongkat, orang, dll) yang berdiri tegak pada suatu jarak dari bukit untuk ditaksir tingginya dengan tangan direntangkan ke depan. Pegang alat pengukur tegak lurus untuk mengukur tinggi obyek yang sebenarnya
Melalui pengamatan tinggi pohon AB di alat pengukur terlihat 5 Cm. Sedang tinggi pohon diketahui 2,5 meter. Jadi perbandingannya = 5 Cm : 250 Cm = 1 : 50
Pada alat pengukur, tinggi bukit AC terlihat 35 mm. Jadi tinggi bukit AC = 35 x 50 = 1.750 cm = 7,5meter
Keterangan:
Pohon dapat diganti dengan orang yang ketinggiannya di anggap sama = 2,5 meter yang pada rol terwakili xy; bukit AC pada rol adalah: xz.

Latihan Pramuka sesi 2 (materi alam bebas) point 4




Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEsQWMjq4jUFzS6VMbIZayK7RcTUGV4E5Y9rbNyDWlSUTx3AeF_Yq6lCDLGQDLwr5jybCRB4rCMMDyF16kkWqsPGlY6eEVKoSv0ZuTRTowieNmfayncUgYjwiFPnfJ6vAcjEbXa7_TFG5T/s320/Lebar+sungai.jpg

Pengantar
Kegiatan penjelajahan di alam terbuka sering menjumpai rintangan alam seperti sungai, lembah, bukit, pohon, jurang, dsb. Menghadapi rintangan semacam itu dibutuhkan pengetahuan tentang "penaksiran", agar melewatinya  tidak terjebak dalam kesulitan yang dapat membahayakan para Pramuka.
Agar aman menyeberangi sungai dibutuhkan kemampuan "penaksiran sungai" yang terdiri dari pengetahuan menaksir lebar sungai, menaksir tinggi permukaan sungai dan menaksir kecepatan arus sungai.  Mengutamakan keselamatan dalam penjelajahan harus diutamakan, jangan hanya mengejar tingkat kesulitan tantangan, rintangan dan halangan semata.
Cara Menaksir Lebar Sungai
Cara Pertama
Mengukur/menaksir lebar sungai dengan ilmu ukur segitiga
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhknsejoSLZO9arM0KAG7wRz55PzH7w72xN6yohVdFHu6dzOuJKWUkYcn4UO8g2M6CVB-EnPyxQrWB38_RtUOKSECpOwYO8UGgQ4T6R5wVsp_QL7i_IJ9GSZqIVLXEQUsTpI76nQAlnvDdg/s320/Lebar+Sungai+Segitiga.png
Tetapkan check point A di seberang sungai.
Jadikan tempat kita berdiri  sebagai  titik B.
Buat sudut 90° dan bergerak ke C sebanyak  x  langkah  (x adalah jumlah langkah).
Lanjutkan melangkah ke D sebanyak ½  x langkah. (1/2 x langkah adalah jumlah langkah
Dari titik D buat sudut 90° dan bergeraklah mundur sambil mengintai ke point A dan C.
tempat berdiri, berada di satu garis lurus.
Berhenti setelah A: C dan E berada di satu garis lurus.
(dengan dcmikian lebar sungai: AB = 2 DE).

Cara Kedua
Mengukur/menaksir lebar sungai dengan ilmu ukur segitiga
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzzyI7X4hD9ruXWqNu59LdoSZixevog625rFOuhet0lJX36DDZSBuOm0U8EyF872IvAmcEQ3IpMv4U568HlwsKiEICi-EcUY3qbUZ2wiFSBEx5UdmI_Np71Jh-IMjyHCbinhnMFw4_b8HY/s320/Labar+sungai+segitiga2.png
Tetapkan check point A.
Jadikan tempat tegak pada point B.
Menghadap ke kiri dengan sudut 90° kemudian berjalan mundur.
Berhentilah apabila telah dapat membuat sudut 45°, jika di proyeksikan ke titik A.
Titik tersebut dinyatakan sebagai titik C. Dengan demikian maka dalam segitiga ABC diatas, sudut A juga = 45° karena itu sisi AB = BC. Jadi lebar sungai AB = BC.
Cara ketiga
Mengukur/menaksir lebar sungai dengan ujung topi
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4pHnb_wP8ZXT6oxk2s6pKBybawaHAb71ts4snSGBn5aKGU2MK70Q0PAEbnjt6dxLxoevrVYTf01P7Fx3jeAbStAjQjbwOcB1gTq5eIEstkTQwkANYaD5IPiz1YRkyXVOWQk1IFfZZtpDH/s320/Lebar+sungai+topi.png
Dengan pandangan melalui ujung topi, tentukan sebuah check point A di seberang sungai.
Berputarlah ketepi yang lain dengan sikap tubuh dan topi yang sama.
Suruh seorang teman menuju ke titik di hujung pandangan melalui topi tersebut.
Titik tersebut kita anggap C. maka BA = BC = radius.
Cara keempat
Menaksir Lebar Sungai dengan Permukaan Air yang Tenang/Danau
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZ_ORepDFQPRS_LP40zU8MeZ223QM0l5m-Gt8I5Bf18ugv1ka92sTGw2roXCLvoEs2b7EdyEQ8rxRmicYhjLV1h9hzeifujDKBcWfOIhWpT7x9RQgrF1p4Jjc7AMo19p-YOwT1iFtcjDNq/s320/Lebar+sungai+tenang.png

Jatuhkan benda berat ke dalam air, misalnya : batu atau sejenisnya
Perhatikan riak air yang berjalan menuju titik C (diseberang).
Perhatikan riak air yang menyentuh titik C yang bersama-sama menyentuh titik B
Ukur jarak antara A dan B.
Jarak A dan B akan sama dengan jara A dan C yang sekaligus menunjukan lebar sungai.

Menaksir Tinggi Permukaan Sungai

Dengan menggunakan batang ranting
Kondisi sungai di hilir/muara berbeda dengan kondisi di hulu, oleh sebab itu pengukurannya dilakukan dengan cara berbeda (lihat fambar).
Ambil galah yang cukup panjang dan masukan ke dalam sungai
Galah yang dimasukan ke dalam air harus dalam posisi tegak lurus
Lakuan pengukuran di berbagai tempat agar diketahui berbagai perbedaan titik terdalam.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjy3LC4v_7DBUeEWnPhkyXG-SiuxQh1fkM42200MpDGIOFLa23jaWW-c4S6D_phQvAGgdn1lsDiEjzMQpsJeEx-Y9fC8WXfGbSHMLtJf8G2OVFQ7y1H6mkP8_ADr-IOay4PhyphenhyphenVERLFqpIcH/s320/kedalaman+sungai.png
 
Dengan memperhatikan Riam
Dengan memperhatikan riam maka akan dapat menduga mana bagian sungai yang lebih dalam dan mana yang tidak dalam, caranya :
Gelombang tegak adalahh bagian sungai yang terdalam dan tercepat arusnya dibagian sungai sekitarnya.
Bagian luar kelokan sungai bagian sungai yang lebih dalam
Bagian ujung lancip dari lidah air (bentuk V) adalah bagian yang lebih dalam dibandingkan dengan ujung lidah di atasnya.

Kegunaan Menaksir Kedalaman Sungai
Umumnya bagian tengah sungai lebih dalam dari bagian tepinya, maka kemampuan memperkirakan kedalaman sungai akan dapat terhindar dari bahaya ketika melalukan penyeberangan.
Memperkirakan tinggi relatif  (perbandingan tinggi air sejam yang lalu dengan cara menggoreskan tanda di benda tertentu kemudian ditancapkan di sungai atau menggantungkan benda tertentu di atas air sungai), akan dapat memperlihatkan kecenderungan permukaan air turun atau naik.

Menaksir Kecepatan Arus Sungai
Cara Pertama
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmjnP6EwRnqXig3BWZJ_F4RjWGqVcXcGnCpXouzduyq2972RC_WWM_mK0esby27zM2t5_uDEJ7QJ9N7QwneenjfAqxC4s4rB1UK-nHdaSgAC8W7lotbi-8aS9rkZt4kIOVndoXbPtfwKo7/s320/ARUS+SUNGAI+1.png
Letakkan benda terapung di titik 0  (benda yang bisa terapung dan hanyut - X)
Setelah sekitar 15 meter (dari titik A), mulailah berjalan mengikuti benda yang dihanyutkan tadi (x), sambil menghitung  sampai titik B
Ukur jarak AB
Kecapatan arus sungai = jarak AB/waktu

Cara Kedua
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSzThe4pkAUC53UX8RhfltjlUPicTQ3RSs-rRhTzhhVR3GT5-tU7ae0lX2PzcGm3h7e3KMKgNukhRyIsEwOLms8wNOUpKkJpdHD1LqcgbOj7XiZj8QfXPYL313ZjRNxZnAReVZy4ri7WXd/s320/aRUS+SUNGAI+2.png
Letakkan benda terapung di titik 0  (benda yang bisa terapung dan hanyut - X)
Setelah sekitar 15 meter (dari titik A), mulailah berjalan mengikuti benda yang dihanyutkan tadi (x), sekitar 50 angkah (langah biasanya kecepatannya dapat diperkirakan)
Setelah sampai titik B, misalnya benda sampai di X yang sejajar dengan titik B.
Ukur jarak AB dan AX
Kecepatan arus sungai = AX x  kecepatan langkah
Catatan :
Benda yang dihanyutkan sedapat mungkin hanyut mendekati bagian tengah sungai (antara dua tepi sungai)
Jika sungai lurus kecepatan arus paling besar terjadi di tengah sungai dan kecepatan paling rendah di pinggir sungai.

LATIHAN PRAMUKA PERATURAN BARIS BERBARIS

1.               Pengertian Baris Berbaris Suatu wujud fisik yang diperlukan untuk menanamkan kebiasaan tata cara hidup suatu organ...